Kisah Pilu Penahanan dr Ratna Milda Nasution, PNS Dinkes Kota Binjai, “Ibuku Tidak Salah Mohon Keadilan”

Berita IMN.com, Binjai – Kisah pilu menimpa seorang dokter, pegawai Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Binjai yang terpaksa harus menelan pil pahit karena menjadi terdakwa kasus dugaan Penipuan dan Penggelapan yang saat ini sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Binjai.

Idealnya seorang dokter melayani dan pengobati pasien dikantornya. Namun terkadang kondisi ideal ini terkesampingkan saat sang dokter harus menghadapi kasus hukum dan harus meringkuk dibalik penjara.

Dalam beberapa kasus, ada ibu yang terpaksa meninggalkan anaknya karena harus tinggal di tahanan selama menjalani proses hukum. Namun ada pula gadis belia yang terpaksa harus berpisah dari ibu lantaran ibunya harus tinggal di hotel prodeo.

Agsya Rahmadana Nasution, seorang gadis belia juga anak yatim harus rela berpisah dari ibu kandungnya, dr Ratna Milda Nasution yang mendekam di penjara menjadi terdakwa dalam kasus dugaan Penipuan dan Penggelapan.

Agsya, begitu ia biasa disapa harus merasakan pilunya berpisah dari ibu kandungnya, padahal sejak ia ditinggal pergi oleh ayahnya, Agsya tak pernah jauh dari kasih sayang ibunya.

“Kemana pun ibu pergi aku selalu ikut mendampingi ibu, apapun yang dilakukan ibuku saya pasti mengetahui, aku sangat sayang dengan ibu,” ujar Agsya Rahmadana Nasution kepada wartawan Kamis (15/7/2021) ketika ditemui di kantor Pengadilan Negeri Binjai disela sela menunggu persidangan ketiga ibu kandungnya.

Dalam pertemuan yang tak disengaja tersebut, lantas Agsya menceritakan derita pilu yang dialaminya saat ini. Ia membuka cerita dengan mata berkaca kaca sembari mengingat kisah ataupun proses kasus ibu kandungnya dr Ratna Milda Nasution yang jauh dari rasa keadilan.

Dengan terbata bata ia mengawali ceritanya dan mengatakan, bahwa ibunya adalah juga sebagai salah satu korban penipuan yang dimana ibunya hanya melaksanakan perintah atas suruhan dari oknum Eks Walikota Binjai, MI

Agsya menerangkan, Ibunya harus rela menelan pil pahit karena dituding sebagai terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang ibunya sama sekali tak melakukannya. Sebenarnya, Ibuku adalah seorang sosok wanita pekerja keras, polos dan tidak tau apa apa tentang kasus ini karena ibuku pekerja yang ulet dan jujur.

Makanya, tak heran jika ibunya memiliki banyak relasi termasuk Eks Walikota Binjai karena dia selalu mengedepankan prinsip kejujuran. Namun sayangnya, dibalik kejujuran dan ketulusan itu Ibunya malah dimanfaatkan oleh pejabat tertinggi di kota Binjai saat itu, yang di kenal seorang Walikota yang menyuruh ibunya untuk mencari CPNS.

Padahal sebenarnya diawal, Ibunya tak mau melakukan itu tetapi karena atasan yang menyuruh dan sekedar menghormati maka ibunya pun mau melaksanakan perintah atasannya tersebut.

“Niat baik ibuku untuk membantu atasnya, dia hanya menjalankan perintah atasan, namun malah menjadi bencana bagi ibu dan saya yang berujung pada laporan polisi,” kisah Agsya.

Awalnya, pada saat itu ibuku main media sosial online Facebook, tiba tiba ada orang yang meminta pertemanan dengan nama akun oknum Walikota Binjai MI, waktu itu ibu tidak percaya bahwa itu akun Walikota, tapi ibu tetap saja menerima pertemanan tersebut.

Setelah itu dia meminta nomor WhatsApp dan diberikan oleh ibu dan kemudian dia seolah olah sudah benar benar tau tentang ibuku siapa, lanjutnya dia bertanya “Kamu dokter di RS Zulham kan dan anak kamu satu kan” dijawab ibu ya pak, dan tidak lama kemudian dia video call (VC) ibu sekitar 3 detik dan saat itu Agsya yang angkat telepon karena ibu saat itu tidak pakai hijab (tidak sopan jadi ibu tak angkat), akhirnya Agsya yang angkat telepon tersebut terus dia tanya “Mana muka kamu”, Agsya berpikir dan yakin VC itu disambungkan ke youtube.

Selanjutnya, tiba tiba VC terputus dan dilanjut komunikasi lewat chatting WA dan saya baca disitu disebutkan dan menawarkan ke ibu oleh oknum eks Walikota Binjai “Kamu mau jadi Direktur RS Zulham Binjai” katanya, dan dijawab ibu “Waduh Pak mana ada uang saya” jawab Ibu, “Uda kamu tenang aja, saya bisa mengatur itu semua, kamu kan tau saya siapa” kata dia. Saya dan ibu juga kaget kok mukanya bisa benar benar Walikota Binjai.

Kemudian, berjalan seiring waktu dia bertanya “Ada saudara saudara kamu yang mau jadi PNS” nanti saya cari kata Ibu, selanjutnya Ibu mencari dan ditawarkan ke adek ibu sendiri.

Agsya melanjutkan, saat itu berangkat ke Jakarta untuk pelantikan PNS atas suruhan oknum eks Walikota Binjai dengan pakai uang masing masing dan waktu itu ada 5 orang yang berangkat.

“Kami berangkat ke Jakarta disuruh oknum (eks Walikota Binjai) pakai uang masing masing, Ada saya, ibu, Kak Sri, Kak Cindi dan satu lagi teman saya dalam rangka pelantikan PNS dan pelantikan ibu saya jadi Direktur RS,” ujar Agsya.

Tiba di Jakarta hingga dua Minggu lamanya pelantikan itupun tidak ada sesuai yang dijanjikan oknum Walikota Binjai tersebut, dan pelantikan dibatalkan hingga kembali lagi ke kota Binjai.

“Dengan rasa kecewa kami semua kembali ke Binjai dengan memakai uang masing masing,” tandas Agsya.

Lanjut Agsya, tanpa ibu sadari ada dugaan ibu dijebak dalam sebuah lingkaran permainan yang mereka ciptakan sampai membuat ibu sebagai terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan.

“Saya menduga ada sebuah rahasia besar dibalik kasus ini sehingga pihak penyidik memberlakukan ibu secara tidak adil. Dan saya berani jamin ada sesuatu dan sesuatu itulah yang nantinya akan terungkap dihadapan persidangan sehingga publik mengetahui bahwa ibu hanya sebagai korban pesakitan dari orang orang Zolim,” tandas Agsya.

Ia dan keluarganya pun akan terus berupaya untuk mencari keadilan atas ibunya yang telah dizolimi. Dan demi tegaknya keadilan atas kasus yang menimpa Ibunya, Agsya akan menceritakan kronologisnya karena ia merasa Ibunya telah diperlakukan tidak adil di Negeri ini.

Dalam sesi wawancara tersebut Agsya pun memohon kepada penegak hukum dan meminta dengan sangat kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dan kepada Kapolda Sumatera Utara agar memberi atensi dan memberi rasa keadilan kepada dirinya dan keluarga.

“Tolonglah Kepada Bapak Kapolda Sumut agar mencari yang sebenar sebenarnya oknum Walikota Binjai ini, Saya tau ibuku tidak salah dan saya masih sekolah dan ibuku tidak bersalah. Mohon sebesar besarnya rasa keadilan karena saya anak yatim, ibuku di zolimi dan ibu tidak bersalah,” pintanya.

“Saya juga memohon kepada Bapak Kajati Sumut saya ingin keadilan dan menegakkan keadilan kepada ibu saya, mohon dibantu dan ibu saya tidak bersalah,” harap Agsya.

Sumber : Sumut.lidik.id

author

Author: 

Kaperwil Sumatera Utara